Penyakit ginjal pada pasien koinfeksi HIV dan hepatitis C

Orang yang menderita koinfeksi HIV dan hepatitis C secara bermakna lebih berisiko terhadap penyakit ginjal dibandingkan mereka yang hanya terinfeksi HIV. Hal ini menurut para peneliti penelitian yang diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi 12 September 2008.

Penyakit ginjal kronis dan jenisnya yang terparah, penyakit ginjal stadium akhir, lebih umum pada orang yang terinfeksi HIV. Saat ini para peneliti dari Fakultas Kedokteran Mount Sinai berupaya untuk menemukan dampak koinfeksi HIV/hepatitis C terhadap risiko pengembangan penyakit ginjal kronis.

Mereka menilai data dari setiap penelitian yang mengamati penyakit ginjal kronis dan infeksi HIV tetapi juga mencatat status infeksi hepatitis C. Seluruhnya ada 24 penelitian yang tercakup dalam analisis mereka.

Mereka menemukan bahwa kemungkinan penyakit ginjal kronis adalah 49% lebih tinggi pada mereka yang memiliki koinfeksi dibandingkan orang yang hanya terinfeksi HIV (6,2% banding 4%, risiko relatif 1,49, CI: 95%, 1,08-2,06). (Wyatt 2008).

Namun para peneliti juga mengamati dua parameter lain pada penyakit ginjal. Parameter pertama adalah proteinuria, keberadaan protein dalam air seni yang merupakan tanda awal penyakit ginjal. Parameter kedua adalah gagal ginjal akut – tanda penyakit ginjal sangat lanjut.

Mereka menemukan bahwa koinfeksi hepatitis dikaitkan dengan 15% peningkatan risiko proteinuria dan 64% peningkatan risiko gagal ginjal akut. Para peneliti juga menemukan peningkatan risiko masalah ginjal dengan PI indinavir.

Pedoman HIV sudah menekankan bahwa koinfeksi hepatitis C adalah faktor risiko terhadap penyakit ginjal dan menyarankan dokter untuk secara rutin melakukan tes terhadap proteinuria dan memantau fungsi ginjal pasien dengan estimated glomerular filtration rate (eGFR).

Para penulis mengatakan hasil mereka menguatkan pentingnya usulan tersebut karena pengenalan awal gejala penyakit ginjal memungkinkan sasaran pengobatan dan berharap pengembangan menjadi penyakit ginjal yang lebih berat dan penyakit ginjal stadium akhir dapat ditunda.

Penting juga untuk memandu pemilihan dan penentuan takaran terapi antiretroviral (ART), walaupun mereka menambahkan bahwa pelaporan status hepatitis C secara rutin belum menjadi bagian dari sebagian besar uji coba klinis.

Para peneliti juga mengamati dampak ras terhadap penyakit ginjal kronis pada pasien koinfeksi dan menemukan bahwa pasien kulit hitam 25% lebih mungkin memiliki penyakit ginjal kronis.

Hasil penelitian ini juga menggaungkan hasil penelitian lain yang diterbitkan pada awal 2008, yang memberi kesan bahwa kemungkinan mengembangkan bentuk penyakit ginjal yang lebih ganas adalah lebih tinggi pada warga AS keturunan Afrika adalah dibandingkan pada warga kulit putih. (Lucas 2008).

Comments