Terapi HIV/AIDS dengan Bakteri Yogurt

Cyanovirin, sebuah zat kimia yang melalui serangkaian percobaan dapat menghambat infeksi HIV pada tubuh monyet dan sel manusia. Probiotik merupakan kultur tunggal atau campuran dari mikroorganisme hidup yang bila diberikan ke manusia atau hewan akan berpengaruh baik, karena berfungsi menekan pertumbuhan bakteri penyebab penyakit/ patogen yang ada dalam usus. Walau tergolong penemuan baru, probiotik yang mengandung Lactobacillus, Bifidobacterium dan Acidophilus telah digunakan untuk kesehatan sejak dulu, namun belum diketahui tentang bahan aktifnya dan cara kerjanya.

Lactobacillus dan perkembangan fungsi probiotik pertama dipublikasikan oleh peneliti Rusia Metchinkoff dengan teori "Intoksikasi". Teori ini menjadi dasar pentingnya penggunaan yogurt (susu asam/ fermentasi) untuk kesehatan. Lactobacillus merupakan bakteri yang habitatnya berasal dari membran mukosa hewan atau manusia, tanaman, serta makanan hasil fermentasi.

Manfaat yang berhasil digali dari penemuan probiotik ini adalah pengaktifan sistem kekebalan tubuh, pencegahan kanker, juga bekerja sebagai bahan aktif anti tumor. Vitamin dan asam laktat yang dihasilkan dapat berfungsi sebagai antioksidan dan menekan pertumbuhan bakteri E coli dan Clostridium perfringens penyebab radang usus serta beberapa bakteri patogen lainnya.

Melalui mekanisme kerja lainnya, bahan-bahan ini juga dapat mencegah peningkatan tekanan darah, kolesterol dan kanker yang disebabkan oleh nitrosamin. Kultur probiotik inilah yang digunakan sebagai kandungan utama dalam yogurt, kefir serta beberapa susu formula.

Fungsi Lactobacillus Dalam Terapi Terbaru AIDS
Dalam publikasi yang dilansir LiveScience, para peneliti di Brown Medical School, Rhode Island berhasil mengubah susunan genetik bakteri Lactobacillus tersebut sehingga dapat menghasilkan Cyanovirin, sebuah zat kimia yang melalui serangkaian percobaan dapat menghambat infeksi HIV pada tubuh monyet dan sel manusia.

Salah satu jenis Lactobacillus tersebut merupakan Lactococcus lactis yang biasa digunakan untuk menghasilkan asam susu dalam pembuatan yogurt dan keju. Sebelumnya, fungsi Lactobacillus hanya terbatas pada penghambat pertumbuhan bakteri-bakteri patogen serta memberikan perlindungan terhadap beberapa organ dalam tubuh manusia termasuk usus dan vagina.

Disebutkan pula bahwa Cyanovirin akan berperan dalam pengikatan terhadap molekul gula yang menempel pada virus HIV lalu akan menghambat sel reseptor yang diperlukan oleh virus untuk memperbanyak diri dan menginfeksi sel makhluk hidup. Secara ilmiah, metode ini termasuk ke dalam suatu bentuk dari imunisasi pasif.

Cyanovirin sendiri direncanakan untuk dikemas dalam bentuk tablet dengan tujuan pemberian proteksi yang lebih lama. Dan yang sedikit menarik dari banyak forum-forum kesehatan di internet, Cyanovirin ini juga disiapkan dalam bentuk gel yang pemakaiannya dioleskan di sekitar alat kelamin sebelum melakukan hubungan seksual sebagai pencegahan terhadap penyebaran dan transmisi penyakit AIDS.

Teknik ini sedikit lebih maju dari pengobatan atau vaksinasi lain yang jarang dapat mencapai area perifer tubuh manusia termasuk bagian mukosa dinding vagina. Selain itu, proses produksi probiotik ini jelas lebih ekonomis dibanding bahan-bahan kimia dalam obat lainnya sehingga diharapkan bisa dikembangkan dalam banyak bentuk terapi termasuk pengenalan baru dari sisi farmakologisnya.

Begitupun, modifikasi genetik dari pengembangan teori ini masih memerlukan persetujuan serta serangkaian penelitian lagi untuk benar-benar membuktikan tujuannya, dan peneliti ini juga mempersoalkan isu yang akan muncul dari pemakaian Cyanovirin dalam bentuk gel bila nantinya berhasil dipasarkan, namun menurut mereka lagi, paling tidak untuk sementara penemuan ini sudah memberikan titik terang dalam perkembangan penelitian terhadap terapi penyakit berbahaya ini. Temuan laboratorium yang ada sekarang dianggap cukup bisa mendasari penelitian berikutnya yang direncanakan langsung pada manusia di tahun 2007 ini. (Red-waspadaonline/ Livescience.com)/humasristek.

Comments