Endometriosis Sebabkan Sulit Hamil

Jika Anda sering merasa nyeri di sekitar panggul di masa menstruasi, waspadalah! Jangan-jangan itu tanda endometriosis. Penyakit yang diduga mengenai sekitar 20 persen wanita ini, bisa menyebabkan sulit hamil.

Kondisi itu pula yang dialami Eryana (31 tahun). Karyawati di sebuah sekolah tinggi swasta di Jakarta ini pernah terkena endometriosis. Penyakit itu membuat perut nyeri, terutama selagi haid.

Mulanya ia berpikir itu hal wajar. Namun, saat sudah menikah ia lama tak kunjung hamil, barulah curiga terhadap nyeri yang selama ini melanda."Empat tahun menikah tidak hamil juga, saya lalu konsultasi ke dokter kandungan. Ternyata ada endometriosis di falopi,"kisah ibu satu anak ini.

Setelah menjalani terapi hormon beberapa bulan, ia tak lagi diganggu nyeri. Pada akhirnya ia pun bisa hamil. Tetapi, akibat terapi hormon, badan saya jadi melar begini," ujarnya sambil menepuk bokongnya yang memang lebar.

Bukan Kanker

Secara normal rahim dilapisi jaringan endometrium. Sel-sel itu yang setiap bulan gugur selama masa menstruasi. Namun, sel-sel endometrium kadang nakal dan menempel di sembarang tempat, misalnya di indung telur, saluran falopi, saluran cerna, atau rongga panggul. Bisa juga dijumpai di vagina, mulut rahim, dan kandung kemih.

Meski jarang, endometriosis bisa melanglang ke lever, paru-paru, dan otak. Endometriosis pada umumnya bersifat jinak, dan bukan sejenis kanker. Demikian diuraikan dalam situs womenshealth.

Endometriosis mengenai wanita di usia subur. Diperkirakan lebih dari satu juta wanita di Amerika Serikat mengalami endometriosis. Sementara di Indonesia belum ada data tersebut.

Penyakit ini menjadi penyebab utama nyeri panggul dan menjadi alasan dilakukannya tindakan bedah laparoskopi dan histerektomi (pengangkatan rahim) di AS. Sebuah studi menunjukkan kejadian endometriosis pada wanita kulit putih lebih banyak dibanding wanita Afro Amerika maupun wanita Asia.

Sebab pasti endometriosis belum diketahui hingga kini. Satu teori menyatakan, jaringan endometrial menumpuk di tempat yang tidak biasa akibat berbaliknya aliran mentruasi ke dalam saluran falopi, daerah panggul, dan rongga perut.

Meski demikian, kondisi itu pun tidak selalu berkembang menjadi endometriosis. Kemungkinan lain, organ-organ di sekitar panggul memiliki sel primitif yang tumbuh menjadi bentuk lain, misalnya sel-sel endometrial.

Beberapa studi memperlihatkan, naik-turunnya respon imun dalam tubuh wanita dengan endometriosis, memengaruhi kemampuan alami tubuh dalam mengenali dan menghancurkan pertumbuhan jaringan endometrial yang tidak semestinya.

Transfer langsung jaringan endometrial juga bisa terjadi selama proses operasi, yang mungkin bertanggung jawab pada terjadinya endometriosis pada luka bekas operasi, misalnya bekas operasi caesar. Transfer sef-sel endometrial lewat aliran darah atau sistem limpatik memang jarang terjadi, tetapi bisa mengakibatkan kasus endometriosis yang berkembang di otak atau organ lain yang jauh dari panggul.

Standar Emas

Diperkirakan 30-40 persen wanita dengan endometriosis mengalami gangguan kesuburan atau sulit hamil. Endometriosis juga membuat luka pada jaringan dan terjadi perlekatan, sehingga bisa mengubah anatomi organ reproduksi. Pada tahap lanjut organ-organ itu bisa menyatu dan timbul kondisi yang disebut frozen pelvis.

Hubungan endometriosis dengan ketidaksuburan diduga terkait dengan faktor hormonal dan perubahan anatomi alat reproduksi tadi. Endometriosis mungkin memproduksi hormon dan substansi lain yang berefek negatif pada proses ovulasi, sel telur, dan penanaman embrio, tetapi tidak selalu wanita dengan endometriosis lantas tidak bisa hamil sama sekali.

Wanita dengan endometriosis memiliki risiko sedang untuk terkena kanker jenis tertentu di indung telur yang disebut epithelial ovarian cancer (EOC). Risiko ini sama besarnya seperti wanita yang tidak pernah melahirkan. Namun, penggunaan alat kontrasepsi oral yang kadang digunakan untuk terapi endometriosis dapat mengurangi risiko tersebut secara bermakna.

Diagnosis endometriosis bisa dimulai dengan melihat gejala dan pemeriksaan fisik oleh dokter ahli kebidanan dan kandungan. Pemeriksaan ginekologis bisa juga ditambah USG dan MRI.

Diagnosis yang cukup akurat dilakukan melalui bedah laparoskopi dan biopsi. Cara ini disebut "standar emas". Memang ini merupakan prosedur yang tidak murah dan invasif. Bila dokternya tak ahli benar di bidang endometriosis mungkin tidak bisa langsung mengenali penyakit ini dan malah bisa melakukan diagnosis yang keliru. Ditambah lagi, kebanyakan pasien takut akan tindakan operasi. Keterus terangan pasien dalam membeberkan gejala yang dialami saat pemeriksaan awal (wawancara), akan sangat membantu proses diagnosis.

Pereda Nyeri

Terapi untuk menuntaskan endometriosis belum bisa dikembangkan, mengingat penyebab penyakit ini juga belum diketahui. Sejauh ini terapi didasarkan pada kebutuhan pasien, misalnya bergantung pada gejala yang dialami, usia pasien, dan kondisi kesuburan yang diharapkannya. Pasien harus mendiskusikannya dengan dokter, sehingga dapat ditentukan terapi terbaik yang diharapkan. Pada beberapa pasien, terapi holistik atau kombinasi lebih menjanjikan daripada terapi tunggal.

Endometriosis bisa diterapi dengan obat-obatan serta tindakan bedah. Pengobatan ini ditujukan untuk mengatasi nyeri, juga meningkatkan kesuburan. Obat antiinflamasi nonsteroid sering diresepkan dokter untuk meredakan nyeri atau kram selama haid, tetapi sebenarnya obat itu tidak berefek terhadap endometriosisnya.

Jika pereda nyeri bisa bekerja dengan baik, tidak diperlukan prosedur lain. Namun, jika tidak memperbaiki keadaan, diperlukan evaluasi dan penanganan lanjut.

Karena endometriosis terjadi selama masa reproduktif, beberapa terapi obat yang tersedia berkaitan dengan terhentinya produksi hormon oleh indung telur. Pengobatan ini termasuk pil KB, progestins, dan gonadotropinreleasing hormone analogs (GnRH analogs). Yang disebut terakhir efektif untuk meredakan nyeri sekaligus mengurangi ukuran endometriosis.

Cara kerjanya menekan produksi estrogen dengan menghambat keluarnya pengatur hormon dari kelenjar pituitari. Akibatnya menstruasi terhenti. Namun, dengan berkurangnya estrogen, timbul efek samping berupa vagina kering, perubahan mood, kelelahan, hot flashes, perdarahan vagina, hilangnya massa tulang. Meski begitu, dengan mengonsumsi pil yang mengandung estrogen dan progesteron (biasa untuk terapi menopause), efek samping tersebut dapat dihindari.

Suara Jadi Berat

Obat-obatan kelompok progestins lebih kuat dibanding pil KB. Ini juga bisa berefek samping yang meliputi Perut kembung, berat badan bertambah, kencing berdarah, depresi, dan payudara menjadi lembek. Obat ini tidak disarankan bagi wanita yang merencanakan kehamilan.

Obat lain yang kerap dipakai adalah Danazol, yang dibuat dari hormon pria, androgen, ditambah sedikit estrogen. Sekitar 80 persen wanita yang mendapat obat ini nyerinya berkurang secara nyata dan endometriosisnya menciut.

Sayang banyak juga yang mengalami efek samping berupa penambahan berat badan, payudara mengecil, berjerawat, kulit berminyak, tumbuh bulu, suara jadi berat, sakit kepala, hot flashes, perubahan libido, perubahan mood. Untunglah, semua itu bisa segera diatasi, kecuali perubahan suara yang perlu waktu beberapa bulan untuk kembali ke asal. Obat ini sebaiknya dihindari pasien dengan gangguan lever, jantung, dan ginjal.

Obat yang tergolong baru untuk endometriosis adalah penghambat aromatase. Daya kerjanya menghentikan pembentukan estrogen lokal di dalam endometriosis. Juga menghambat produksi estrogen di indung telur, otak, dan sumber lain, seperti jaringan adipose.

Penelitian keampuhan obat ini memang masih berlangsung. Ini karena obat ini dapat menyebabkan pengeroposan tulang pada penggunaan jangka panjang dan tidak dapat digunakan sebagai obat tunggal, tetapi harus dikombinasi dengan obat lain bagi wanita sebelum menopause.

Pembedahan baru diperlukan jika endometriosis tidak mempan diatasi dengan obat. Atau endometriosis tidak mempan diatasi dengan obat. Atau endometriosis sudah menyebabkan penyumbatan pada saluran kencing atau saluran feses.

Inilah Gejalanya

Banyak wanita yang mengalami endometriosis ternyata tidak merasakan gejala apa pun. Bila mengalami gejala biasanya berupa:

- nyeri di sekitar panggul sebelum, selama, setelah menstruasi
- nyeri selama masa subur
- nyeri atau kram saat berhubungan seksual
- nyeri saat buang air besar atau berkemih
- nyeri perut bagian bawah
- nyeri punggung bawah
- diare atau sembelit, terutama di masa haid
- perut kembung, terutama di masa haid
- menstruasi tidak teratur atau berlebihan
- kencing berdarah
- merasa sangat letih
- sakit kepala bila endometriosis di otak
- nyeri dada atau batuk berdarah bila endometriosis di paru-paru
- ketidaksuburan

Intensitas nyeri bisa berubah dari waktu ke waktu, bisa juga tambah berat. Bila sel-sel endometrial makin dalam atau berada di lokasi yang memiliki banyak persarafan, bisa menyebabkan nyeri yang lebih hebat.

Endometriosis juga bisa memproduksi substansi yang beredar dalam aliran darah dan menyebabkan nyeri. Namun, tak ada hubungan nyeri dengan penyebaran endometriosis.

Pada sebagian besar wanita, nyeri endometriosis biasanya parah dan membuat badan lemah, sehingga tak mampu melakukan kegiatan sehari-hari.
Sumber: Senior

Comments